Tips Umum Persiapan Perjalanan Ibadah Haji dan Umroh | SimaSakti Umroh

Umroh Reguler VIP 12 Hari – Haji adalah ziarah Islam tahunan ke Mekkah, kota suci umat Islam, dan kewajiban wajib bagi umat Islam yang harus dilakukan setidaknya sekali seumur hidup mereka oleh semua orang Muslim dewasa yang secara fisik dan finansial mampu melakukan perjalanan, dan dapat mendukung keluarga mereka selama ketidakhadiran mereka. Ini adalah satu dari lima Rukun Islam, di samping Syahadat, Salat, Zakat, danSawm. Haji adalah pertemuan tahunan terbesar orang-orang di dunia.Keadaan yang secara fisik dan finansial mampu melakukan ibadah haji disebut istita’ah, dan seorang Muslim yang memenuhi syarat ini disebut mustati.Haji adalah demonstrasi solidaritas orang-orang Muslim, dan ketundukan mereka kepadaTuhan (Allah). Kata Haji berarti “berniat melakukan perjalanan”, yang berkonotasi baik tindakan luar dari perjalanan dan tindakan ke dalam niat.
Berbagai aktivitas mulai dilaksanakan dari penyelesaian administrasi dan pelunasan sisa biaya haji yang terhutang sampai dengan melakukan penyelesaian manasik haji.
Untuk sekedar menambah informasi bagi yang berkesempatan untuk berangkat ke tanah suci, berikut ada beberapa tips yang mudah-mudahan dapat membantu agar ibadah haji dapat terlaksana dengan baik tanpa mengurangi kekhusu’an disana.
Persiapkan keberangkatan :
1. Baca dan perdalami lagi buku tentang ibadah haji, jangan cukup puas dengan informasi yang diperoleh dari bimbingan haji atau dari manasik haji saja.
2. Buku panduan Haji dari Departemen Agama dibaca seluruhnya sebelum berangkat, pada bulan puasa lebih tepat untuk mendalami buku tersebut, do’a-do’a mana yang dapat di hafal lebih baik di hafalkan, jangan baru di baca setelah sampai di tanah suci.
3. Hal-hal yang masih menjadi pertanyaan atau meragukan tentang pelaksanaan ibadah haji sedapat mungkin di dapatkan jawabannya sebelum berangkat ke tanah suci, jangan dipendam dan baru di tanyakan setelah di tanah suci, akan banyak mengalami kebingungan dan banyak silang pendapat.
4. Ingat… di tanah suci pembimbing haji tidak setiap saat akan menemani anda, pembimbing haji menemani pada saat waktu-waktu tertentu saja, jadi waktu selebihnya adalah terserah aktivitas yang saudara rencanakan sendiri.
5. Sebelum keberangkatan perbanyak sholat taubat, tahajud, dhuha serta sholat sunat lainnya dan memohon agar segala dosa dan aib yang dimiliki ditutup dan di ampunkan disana.
6. Jaga kesehatan dan stamina dengan cara melatih berjalan jauh di pagi hari dan olah raga teratur, karena banyak aktivitas perjalanan jauh (jalan kaki) disana dan fisik harus kuat, pola makan dan tidur yang teratur, disana waktu tidur dan istirahat banyak berkurang.
7. Tulis wasiat, jika perlu, seandainyaTuhan mentakdirkan kita tidak pulang kembali ke tanah air untuk menikmati keindahan negeri dan dunia ini lagi.
8. Perbekalan :jangan terlalu banyak membawa pakaian. Pakaian dibawa sekedarnya, pertimbangkan jika nanti mau beli oleh-oleh saat kembali ke tanah air. Ingat berat bawaan ada quotanya alias terbatas.Tentu alat kebutuhan mandi perlu dibawa di samping perbekalan mencuci, karena disana mencuci baju dilakukan sendiri kecuali yang membawa istri, bisa dilakukan kerjasama gotong royong.
9. Perbekalan dalam bentuk bahan makanan sebaiknya makanan langsung habis dimakan dan perbanyak makanan kering yang sudah masak seperti rempeyek, dendeng, ikan asin (boleh mentah), indomie, rendang, keripik kentang, disana makanan yang dibagikan dan disediakan kebanyakan masakan yang di rebus bukan di goreng dan rasa bumbu kurang, sehingga banyak jemaah yang kurang suka, nafsu makan jadi kendor.
10. Obat-obatan sangat perlu, obat batuk, pilek, pusing, obat sakit perut, obat merah, tensoplas, serta perangkat obat luka..serta lotion kulit anti cuaca panas udara kering. Obat-obatan bagi penyakit khusus itu perlu disiapkan dari tanah air selengkap mungkin.
11. Siapkan tambahan uang real jauh-jauh hari, jangan beli saat mendekati keberangkatan harganya menjadi mahal, disana ada juga money changer, tetapi harga relatif tinggi, jadi sebaiknya disiapkan dari tanah air dan beli pada saat kurs masih murah.
12. Jangan lupa membawa Camdig alias camera digital atau camcoder untuk dokumentasi diri disana, banyak tempat-tempat yang menarik untuk berpose ria.
Ingat pergi haji mengorbankan segala-galanya: harta, waktu, perasaan dan tenaga. Pergi haji itu mahal, capek, dan penuh kesabaran yang tinggi, jangan setelah pulang pengorbanan itu menjadi sia-sia tanpa menghasilkan sesuatu yang berarti. Banyak orang antri berminat untuk berangkat ke Tanah Suci dan mungkin mereka lebih siap dan pantas, jadi manfaatkan kesempatan yang tidak dua kali ini semaksimal dan seoptimal mungkin.

Bagaimana dengan rencana perjalanan haji dan umroh sahabat muslim sekalian? Apa tips umum ini dapat membantu sahabat muslim yang ingin segera melaksanakan ibadah haji maupun umroh?

Mari wujudkan impian untuk melaksanakan ibadah haji maupun umroh bersama SimaSakti Umroh dengan berbagai paket lengkap dan menarik khusus untuk sahabat muslim 🙂

 

Takut Menjadi Miskin Karena Melaksanakan Ibadah Haji dan Umroh ? | SimaSakti Umroh

Umroh Luar Biasa – Perlu kita ketahui dan yakini bahwa melaksanakan ibadah haji dan umroh tidak akan membuat kita menjadi miskin, justru akan semakin memberikan berkah rezeki bagi yang melaksanakannya karena Allah Maha Kaya.

Tidak pernah ada dalam sejarah,bahwa ada Pak Haji dan Bu Hajjah yang telah berangkat haji jatuh miskin dan apalagi bangkrut perusahaannya atau usahanya, yang ada malah tambah jaya..

Yang ada, Haji menghilangkan kefakiran.
Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1/387. Kata Syaikh Al Albani hadits ini hasan shahih)

 

Abul ‘Ula Al Mubarakfuri mengatakan bahwa yang dimaksud menghilangkan kefakiran ada dua bentuk:

1- Menghilangkan kefakiran secara lahiriyah, yaitu benar-benar diberikan kecukupan materi.

2- Menghilangkan kefakiran secara batin, yaitu maksudnya hatinya akan selalu dikarunia qona’ah (merasa cukup). (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 3: 635).

​Apakah Umroh itu?

Umroh bisa disebut sebagai Haji kecil yang dapat di laksanakan kapan saja setiap tahun. Ia dapat di laksanakan bersamaan dengan Haji atau juga di lain waktu.

Menurut Al Quran.

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah”.

(Al-Baqarah, 196)

Tujuan, Dasar Hukum dan Hubungan Haji dan Umroh

  1. Tujuan Pelaksanaan Haji dan Umroh
  2. Al-Baqarah : 189

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan tsabit. Katakanlah: “Bulan tsabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”.

  • Dasar Hukum Pelaksanaan Haji dan Umroh

Mengenai hukum ibadah haji, asal hukumnya adalah wajib ‘ain bagi yang mampu. Melaksanakan haji wajib, yaitu karena memenuhi rukun Islam dan apabila kita “nazar” yaitu seorang yang bernazar untuk haji, maka wajib melaksanakannya, kemudian untuk haji sunat, yaitu dikerjakan pada kesempatan selanjutnya, setelah pernah menunaikan haji wajib.

Haji merupakan rukun Islam yang ke lima, diwajibkan kepada setiap muslim yang mampu untuk mengerjakan. Jumhur Ulama sepakat bahwa mula-mulanya disyari’atkan ibadah haji tersebut pada tahun ke enam Hijrah, tetapi ada juga yang mengatakan tahun ke sembilan hijrah.

  1. Al-Qur’an

Artinya : “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”[1].

  1. Al-Hadits

“Dari ibnu Abbas, telah berkata Nabi SAW : Hendaklah kamu bersegera mengerjakan haji, maka sesungguhnya seseorang tidak akan menyadari sesuatu halangan yang akan merintanginya”[2].

 

  1. Hubungan Haji dengan Umroh

Didalam ibadah haji, sebenarnya mengandung dua macam ibadah yang berhubung-hubungan, yaitu :

  1. Haji : biasa dikatakan orang haji besar.
  2. Umroh : biasa dikatakan orang haji kecil.

Bagaimana sahabat muslim? Tertarik untuk segera melaksanakan ibadah haji dan umrah dengan harga yang terjangkau? Simasakti Umroh punya solusinya. Dengan tawaran paket umroh yang variatif bisa disesuaikan dengan keinginan sahabat muslim sekalian. Yuk, tunggu apa lagi. Segerakan niat baik untuk mengunjungi Baitullah bersama SimaSakti Umroh.

Keistimewaan Jabal Uhud | SimaSakti Umroh

Umroh Murah Awal Tahun – Bukit Uhud atau Jabal Uhud adalah sebuah bukit berjarak 5 kilometer dari utara Kota Madinah dengan ketinggian sekitar 1.077 meter, selalu dikenang oleh umat Islam karena di lembah gunung ini pernah terjadi peperangan besar antara pejuang Islam dan kaum kafir Quraisy pada 15 Syawal 3 Hijriyah (Maret 625 Masehi) yang menyebabkan 70 pejuang Islam mati syahid.

Tak seperti umumnya gunung di Madinah, Jabal Uhud seperti sekelompok gunung yang tidak bersambungan dengan gunung yang lain. Karena itulah penduduk Madinah menyebutnya dengan sebutan Jabal Uhud yang artinya ‘bukit menyendiri’.

“Jika kita hendak melihat bukit yang terdapat di surga, maka ziarahlah ke Bukit Uhud. Nabi SAW bersabda, ‘Bukit Uhud ialah salah satu dari bukit-bukit yang terdapat di surga’,” demikian hadis yang dirawikan HR Bukhari.

Di lembah bukit ini pernah terjadi perang dahsyat antara kaum muslimin sejumlah 700 orang melawan gerombolan musyrikin Mekkah dengan jumlah yang tidak seimbang. Mereka menyerang dengan serdadu tak kurang dari 3.000 orang. Dalam peperangan tersebut kaum muslimin yang gugur hingga 70 orang syuhada, di antaranya paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muththalib, yang digelari Asa­Dullahwa Asadur Rasul (Singa Allah dan Rasul-Nya), Mush’ab bin Umair, dan Abdullah bin Jahsyin.

Para syuhada tersebut dimakamkan di lokasi mereka gugur, di dekat Gunung Uhud. Nabi Muhammad SAW sendiri dalam pertempuran tersebut mendapat luka-luka. Dan sahabat-sahabatnya yang menjadi perisai guna Rasulullah turut gugur, dengan kondisi badan dipenuhi anak panah. Setelah perang usai dan kaum musyrikin mengundurkan diri pulang ke Mekkah, maka Nabi Muhammad SAW memerintahkan supaya mereka yang gugur dimakamkan di lokasi mereka roboh, sampai-sampai ada satu liang kubur terdiri dari sejumlah syuhada.

Rasulullah  SAW bersabda, “Mereka yang dimakamkan di Uhud tak mendapat tempat lain nya kecuali ruhnya sedang di dalam burung hijau yang mengarungi sungai surgawi. Burung tersebut memakan makanan dari taman surga, dan tak pernah kehabisan makanan. Pada syuhada itu berbicara siapa yang bakal menceritakan situasi kami disini untuk saudara – saudara kami bahwa kami telah berada di surga.” Maka Allah bersabda dalam QS Ali Imran ayat169 :

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.

46 Tahun kemudian, yaitu pada masa Khalifah Marwan bin Hakam, terjadi banjir besar sehingga makam Hamzah dan Abdullah bin Jahsyin rusak berat. Ternyata, meski sudah lebih dari 40 tahun di dalam kubur, jasad kedua sahabat itu masih segar, seperti baru saja meninggal. Maka jasadnya dikubur di tempat lain tapi masih di kawasan Gunung Uhud.Pada tahun 1383 H, dibangun tembok tinggi yang mengelilingi makam Hamzah dengan celah-celah jeruji, agar peziarah dapat menyaksikan makam tersebut. Di dalam areal pemakaman tidak ada tanda-tanda khusus seperti batu nisan, yang menandakan ada makam di sana.

Jabal Uhud menjadi tempat yang sangat penting untuk diziarahi para jemaah haji dan umroh. Seperti yang terlihat ketika jamaah umroh Syakira Wisata berziarah di Jabal Uhud. Beserta ratusan jemaah haji dan umroh dari Indonesia dan mancanegara kembali berusaha merefleksikan, mengenang, sejarah perjuangan para syuhada’. Mereka berjuang dalam menegakkan Islam. Seraya berziarah dan berdoa di makam syuhada Uhud.

Jadi, bagaimana sahabat muslim? Ingin segera mengunjungi Jabal Uhud untuk mengenang napak tilas perjuangan Nabi Muhammad dan Para Sahabat dalam memerangi kaum quraisy? Jangan ragu untuk menghubungi Simasakti Umroh yang memiliki berbagai Paket Umroh lengkap dengan harga terjangkau dan itinerary yang menarik untuk perjalanan ibadah Anda.

Berikut Artikel Terkait Mengenai Tempat Bersejarah jika Sahabat Muslim berkunjung ke Baitullah bersama Simasakti Umroh:

Berikut beberapa testimoni dari jamaah Simasakti Umroh

 

 

 

 

Apa yang akan kita dapatkan dari Ibadah Haji? | SimaSakti Umroh

Umroh dan Haji Plus Banyak Kemudahan – Ibadah Haji adalah merupakan Rukun Islam yang terakhir diantara lima Rukun Islam. Ibadah haji ini agak luar biasa, karena untuk melakukannya seseorang itu mesti berkunjung ke Makkah Al-Mukarramah dan sekitarnya yang terletak di Saudi Arabia. Disamping itu ia dikerjakan sekali setahun selama musim haji saja. Yaitu, di bulan ke-12, bulan Dzulhijjah, menurut penanggalan Hijriah. Bagi umat Islam yang akil baligh dan mampu dalam hal ekonomi dan juga kesehatan cukup menopangnya, wajib melaksanakan ibadah haji. Kewajiban melaksanakannya cukup sekali seumur hidup. Perintah kewajiban mengerjakan ibadah haji berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla sebagai berikut:

“Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang mengingkari (kewajipan) haji, maka ketahuilah Allah bahwa Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” [QS Āli ‘Imrān 3:97]

Allah menjanjikan bagi yang mengerjakan haji akan dapat memperoleh  keuntungan-keuntungan mental dan spiritual yang banyak bagi dirinya, yaitu hikmah serta manfaat yang dapat diperoleh sepulangnya dari ibadah haji itu. Di antara hikmah-hikmah dan manfaat haji adalah sebagai berikut:

  1. Pertama: Menjadi Tamu Kehormatan Allah

 

Ka’bah atau disebut juga Baitullah merupakan simbol ‘Rumah Allah’. Ia dikatakan sebagai ‘Rumah Allah’ karena seperti apa yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim A.S. bahwa orang yang mengerjakan haji adalah tamu istimewa Allah yang memenuhi undangan-Nya. Dan sudah menjadi kebiasaan setiap tamu mendapat layanan yang istimewa dari tuan rumah, Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang sebagaimana sabda Rasulullah SAW sebagai berikut:

“Orang yang mengerjakan haji dan orang yang mengerjakan umrah adalah tamu Allah ‘Azza wa Jalla dan bagi para pengunjung-Nya. Jika mereka meminta kepada-Nya niscaya diberi-Nya. Jika mereka meminta ampun niscaya diterima-Nya do’a mereka. Dan jika mereka meminta syafaat niscaya mereka diberi syafaat.” [HR Ibnu Majah]

  1. Kedua: Mendapat Tarbiah Langsung dari Allah

 

Di kalangan mereka yang pernah mengerjakan haji, mereka mengatakan bahwa Ibadah Haji adalah puncak ujian dari Allah SWT  dalam melakukan kesabaran dan kebaikan serta dapat tolong menolong, menahan marah dan menjaga mulut dalam menghadapi kelelahan ibadah fisik. Ini disebabkan jumlah orang yang sama-sama mengerjakan ibadah haji sangat ramai sekali, hingga mencapai angka jutaan orang. Dalam hal keramaian ini Rasulullah SAW bersabda:

“Bahwa Allah ‘Azza wa jalla telah menjanjikan bahwa ‘Rumah’ (Baitullāh) ini, yang berhaji kepadanya tiap-tiap tahun sebanyak enam ratus ribu. Jika kurang, niscaya dicukupkan oleh Allah dari para malaikat.” Sabda Rasulullah lagi, “Dari umrah pertama hingga umrah yang kedua menjadi penebus dosa yang terjadi diantara keduanya, sedangkan haji yang mabrur (haji yang terima) itu tidak ada balasannya kecuali syurga.” [HR Bukhari dan Muslim]

  1. Ketiga: Membersihkan dosa

 

Mengerjakan Ibadah Haji merupakan kesempatan untuk bertaubat dan meminta ampun kepada Allah. Terdapat beberapa tempat mustajab dalam mengerjakan ibadah haji untuk berdo’a dan bertaubat. Sebenarnya, ibadah haji itu sendiri jika dikerjakan dengan sempurna, tidak dicampuri dengan perbuatan-perbuatan keji, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya sehingga ia suci bersih seperti baru dilahir ke dunia ini. Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang melakukan Ibadah Haji ke Baitullah dengan tidak mengucapkan perkataan keji, tidak berbuat fasik, dia akan kembali ke negerinya dengan fitrah jiwanya yang suci ibarat bayi baru lahir dari perut ibunya.” [HR Bukhari Muslim]

 

  1. Keempat: Memperteguhkan Iman

 

Ibadah Haji secara tidak langsung telah menghimpunkan manusia Islam dari seluruh pelosok dunia yang melakukan ibadah haji. Mereka terdiri dari berbagai bangsa, warna kulit dan bahasa. Hal ini membuka pandangan dan fikiran tentang ajaran Allah dalam Al-Qur’an tentang faedah dan fungsi positif serta membangun arti daripada berkumpulnya sesama manusia sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah SWT :

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling kenal mengenal – ta’aruf  (selanjutnya menjadi tafahum – saling memahami; ta’awun – saling bekerja sama);  itsar – saling membela dan tidak bertengkar.” (QS Al-Hujurāt 49:13)

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu (bukan untuk saling bertengkar atau berperang melainkan saling ta’aruf – kenal mengenal; selanjutnya menjaditafahum – saling memahami; ta’awun – saling bekerja sama); itsar – saling membela dan tidak bertengkar.)” [QS Ar-Rūm 30:22]

  1. Kelima: Pengajaran Dari Peristiwa Orang-orang Sholeh

 

Tanah suci Mekah adalah merupakan lembah yang menyimpan banyak rentetan peristiwa-peristiwa bersejarah. Diantaranya sejarah nabi-nabi dan rasul, para sahabat Rasulullah SAW6., para tabiin, tabi’ut tabiin dan salafus soleh yang mengiringi mereka. Sesungguhnya peristiwa tersebut boleh diambil pengajaran (i’tibar) untuk membangun jiwa seseorang, Rasulullah SAW bersabda:

“Sahabat-sahabatku itu laksana bintang-bintang dilangit, jika kamu mengikuti sahabat-sahabatku niscaya kamu akan mendapat petunjuk.”

  1. Keenam: Merasa Bayangan Padang Mahsyar

 

Bagi orang yang belum mengerjakan haji tentunya belum pernah melihat dan mengikuti berhimpunnya ratusan ribu manusia yang berkeadaan dan berpakaian sama tiada beda (boleh jadi hanya melihat dari tv, gambar, dan video youtube. Itu semua dapat dirsakan secara “live” atau senyata-nyatanya ketika mengerjakan haji. Berhimpunan manusia di Padang (luas) Arafah yang di terjang oleh garang dari teriknya cahaya panas matahari, kering dan berdebu, layaknya seperti di Padang Mahsyar tempat manusia berkempul di Yaumil Akhir – namun dilindungi oleh tenda kemah. Di tempat ini tidak diterlihat dengan nyata status sosial dan perbedaan hidupnya, sehingga tidak dapat dikenal siapa yang kaya atau hartawan, pekerja atau pemilik perusahaan, penguasa atau rakyat biasa dan sebagainya. Mereka semua sama dengan memakai pakaian ihram dari kain putih tanpa jahit. Firman Allah SWT menyebutkan:

“Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa.” [QS Al-Hujurāt 49:13]

  1. Ketujuh: Syiar Persatupaduan Umat Islam

 

Ibadah Haji adalah merupakan syiar persatu paduan umat Islam. Ini kerana mereka yang pergi ke Tanah Suci Makkah itu hanya mempunyai satu tujuan dan satu sasaran yaitu menunaikan perintah Allah dalam kewajiban Rukun Islam yang kelima. Dalam memenuhi tujuan tersebut mereka melakukan perbuatan yang sama, memakai pakaian yang sama, mengikut tata tertib yang sama, malah boleh dikatakan semuanya sama. Ini menggambarkan perlambang dari pada persatupaduan dan persaudaraan seiman dan sehati umat yang diikat dan dipersatukan oleh Islam. Dan gambaran inilah yang semestinya diamalkan dalam kehidupan keseharian umat Islam apabila mereka kembali ke negara asal masing-masing.

 

Bagaimana sahabat muslim? Sudah siap untuk melaksanakan ibadah haji maupun umroh? Apabila sudah memiliki niat baik untuk mengunjungi tanah suci, alangkah baiknya tidak ditunda-tunda. Yuk penuhi panggilan Allah untuk mengunjungi tanah suci bersama SimaSakti Umroh yang memiliki berbagai Paket Umroh Lengkap dengan harga terjangkau dan itenerary menarik untuk mempermudah dan memberikan pelayanan yang nyaman selama perjalanan ibadah anda.

Gelar Haji Menurut Islam??? | SimaSakti Umroh

Umroh Terpercaya-Satu hal yang harus sangat dijaga dalam ibadah haji dan umrah adalah keikhlasan, yaitu hanya mengharap pahala dari Allah Ta’ala semata, bukan karena riya’, bukan karena pujian manusia dan bukan karena “gengsi-gengsian”. Sebaiknya sebelum naik haji, kita hindari terlalu banyak menceritakan berita akan naik haji ke mana-mana, mengunggah foto-foto latihan saat manasik di HP dan media sosial. Apalagi ada beberapa masyarakat kita yang sebelum naik haji mengadakan acara “selamatan” besar-besaran yang tidak bijaksananya adalah acaranya dipaksakan, dana untuk acara hampir sama dengan dana berangkat haji. Kita mestinya harus banyak-banyak bermuhasabah, karena ibadah haji adalah ibadah yang agung dan membutuhkan banyak pengorbanan baik fisik dan harta serta kesempatan melaksanakannya sangat tebatas.Kita juga perlu muhasabah, agar ibadah haji kita bukan sekedar haji “formalitas”. Di beberapa daerah ada cibiran dari masyarakat, sudah kaya, anak sukses semua, usia sudah mulai lanjut, kok tidak naik haji. Ia akan mendapatkan cibiran dari masyarakat seperti itu. Atau bisa juga karena gengsi-gengsian, naik haji disangka adalah simbol puncak keberhasilan seseorang. Jika naik haji berarti dia sudah sukses, kaya, anak berhasil dan sudah punya harta yang banyak.

 

Hendaknya kita mengikhlaskan niat ibadah haji hanya kepada Allah saja.
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)

 

Yang terbaik adalah kita berusaha menyembunyikan amal ibadah haji kita, hanya memberitahu kepada yang berkepentingan saja, misalnya keluarga dan teman-teman di tempat kerja. Bukan “obral” ke sana dan ke sini. Allah mencintai hamba-Nya yang menyembunyikan amalnya dan mencintai hamba yang hanya mengharap ridha Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka menyembunyikan amalannya.”[HR. Muslim no. 2965]

Permasalahan niat adalah permasalahan yang cukup berat, memang agak susah untuk benar-benar ikhlas. Bisa jadi niat awal ikhlas akan tetapi di tengah-tengah bisa jadi riya’ atau tiba-tiba ada pujian manusia yang datang padahal ia tidak harapkan, kemudian ia menjadi tidak ikhlas.

Karenanya seorang ulama, Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata,

“ Tidaklah aku berusaha untuk mengobati sesuatu yang lebih berat daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik”[Jami’ Al-‘ulum wal Hikam, hal. 18]

Ada kebiasaan di masyarakat kita yang sudah menjadi tradisi turun-temurun, yaitu memberikan gelar haji kepada mereka yang sudah naik haji. Sebaiknya gelar ini tidak digunakan, karena jika tidak disematkan lebih mengantarkan kepada puncak keikhlasan.

Berikut beberapa catatan mengenai “gelar haji”

  1. Sebaiknya tidak menggunakan gelar haji untuk lebih menjaga keikhlasan. Tidak perlu orang lain tahu bahwa kita sudah naik haji. Bahkan ada beberapa orang (semoga Allah mengikhlaskan niat mereka), tidak mau dan bahkan marah jika tidak dipanggil dengan gelar haji atau dalam namanya tidak ada singkatan “H” atau “Hj” yang berarti haji dan hajah, misalnya Haji Fulan dan Hajah Fulanah.
  2. Gelar haji pun tidak ada contoh dan tuntunananya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, serta para imam dan ulama-ulama sebelum kita.
  3. Ibadah haji adalah ibadah yang agung, butuh pengorbanan harta yang tidak sedikit dan pengorbanan fisik. Kesempatannya juga cukup langka. Hendaknya amalan tersebut diikhlaskan kepada Allah semata. Perlu kita ingat bahwa orang yang pertama kali dimasukkan neraka adalah orang yang niatnya tidak ikhlas, beribadah karena riya dan pujian manusia. Karena ini merupakan syirik yaitu menyekutukan Allah dalam niat ibadah.
    Ingatlah sebagaimana dalam hadits, di akhirat kelak akan dipanggil tiga orang yang amalnya sangat banyak, pertama sering membaca Al-Quran, kedua sering berjihad dan ketiga sering berinfak di jalan Allah. Akan tetapi mereka beribadah ternyata karena pujian dan dan riya’ kepada manusia. Maka mereka adalah orang yang pertama kali masuk neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Wahai Abu Hurairah, mereka bertiga adalah makhluk Allah yang pertama kali disiksa dengan api neraka di hari kiamat.”[HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahih-nya IV:115, no: 2482, dishahihkan oleh syaikh Al-Albani]

  1. Lebih baik kita mengikhlaskan niat kita. Karena jika sampai rusak maka pahalanya akan sia-sia dan terhapus, padahal pengorbanan sudah begitu banyak.

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan Kami datang kepada amalan yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al Furqan: 23)

  1. Yang paling penting dari ibadah haji adalah kelanjutan setelahnya, bukan gelar haji setelahnya. Selepas naik haji, hendaknya ibadah kita tetap istiqamah, rajin shalat berjamaah di masjid, tetap shalat malam, menjaga perkataan dan perbuatan serta berhias dengan akhlak yang mulia yang membuat lapang hati manusia. Intinya adalah tetap istiqamahRasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang terus-menerus walaupun itu sedikit.”[HR. Muslim no. 783]

  1. Terkadang gelar “haji & hajjah” berguna juga dan bisa sesekali digunakan saat-saat tertentu semisal ketika akan berdakwah di suatu kampung yang mereka lebih mendengar dan menghormati yang sudah berhaji, maka tidak mengapa disematkan gelar haji saat itu saja.

Semoga Allah selalu mengikhlaskan niat kita dan semoga jamaah haji kaum muslimin selalu berusaha menjaga niat ikhlas mereka. Amin ya mujiibas saa-ilin.