Bagaimana Adab Bepergian Jauh (Safar) ?

Para ahli fiqih sepakat bahwa safar adalah menempuh perjalanan yang merubah hukum dengan niat safar. Jadi, safar adalah seorang meninggalkan kampungnya menuju suatu tempat yang memakan perjalanan sehingga menjadikannya boleh untuk mengambil keringanan-keringanan syari’at bagi orang safar.

1. SHALAT & DOA ISTIKHARAH SEBELUM SAFAR

“Jika kalian ingin melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua rakaat selain shalat fardhu, kemudian hendaklah ia berdoa (doa istikharah)” (HR. Ahmad, Bukhari)

2. BERTAUBAT KEPADA ALLAH

“… Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (QS. Al-Baqarah: 222)

3. MENYELESAIKAN PERSENGKETAAN, AMANAH, HUTANG, & BERWASIAT

“Tiada hak bagi seorang muslim yang memiliki sesuatu yang di dalamnya (harus) diwasiatkan, lantas ia bermalam sampai dua malam melainkan wasiat itu harus (sudah) ditulis olehnya” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. BERSAFAR DENGAN BEKAL YANG HALAL

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil… ”    (QS. Al-Baqarah: 188)

5. BERSAFAR DENGAN DUA ORANG ATAU LEBIH

“Satu musafir adalah syaitan, dua musafir adalah dua syaitan, dan tiga musafir ialah rombongan musafir” (HR. Ahmad, Abu Dawud. Hadits hasan)

6. BERSAFAR DENGAN TEMAN YANG SHOLIH

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur)” (QS. At-Taubah: 119)

7. MENGANGKAT PEMIMPIN SAFAR (UTAMAKAN YANG BAIK AKHLAKNYA)

“Jika tiga orang (keluar) untuk bepergian, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai ketua rombongan” (HR. Abu Dawud)

8. DISUNNAHKAN BERSAFAR PAGI ATAU MALAM HARI

“Ya Allah, berkahilah ummatku pada pagi harinya” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi. Hadits hasan)
“Hendaklah kalian bepergian pada waktu malam, karena seolah-olah bumi itu terlipat pada waktu malam” (HR. Abu Dawud. Hadits hasan)

9. BERPAMITAN KEPADA YANG DITINGGALKAN
Doa untuk musafir,

أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ

“Astawdi’ullaha diinaka, wa amaanataka, wa khowaatiima ‘amalik (Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan perbuatan terakhirmu kepada Allah)” (HR. Ibnu Majah)

Musafir mendoakan untuk orang yang ditinggalkan,

أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِى لاَ تَضِيعُ وَدَائِعُهُ

“Astawdi’ukallaha alladzi laa tadhi’u wa daa-i’ahu (Aku menitipkan kalian pada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipan-Nya)” (HR. Ibnu Majah)

10. MEMBACA DOA KELUAR RUMAH

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

“Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah” (Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada-Nya, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya) (HR. Abu Dawud)

11. MEMBACA DOA MENAIKI KENDARAAN & DOA SAFAR

اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ,”
سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ، الَلَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، الَلَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، الَلَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيْفَةُ فِيْ اْلأَهْلِ، الَلَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَاْلأَهْلِ.”

Allahu Akbar (3X), Subhaanal-Ladzii sakh-khoro Lanaa haadza wa
maa kunnaa lahu muqri-niina wa innaa ilaa robbinaa lamun-qolibun, Allahumma innaa nas-aluka fii safarinaa hadzal-birro wat-taqwa, wa minal ‘amali maa tardhoo, Allahumma hawwin ‘alaynaa safaronaa haadza wath-wi ‘annaa bu’dahu, Allahumma antash-shoohibu fiis-safari wal-kholiifatu fil-ahli, Allahumma inii a’udzubika min wa’tsa-is safari wa kaabatil-manzhori wa suu-il munqolabi fil-maali wal-ahli

(Allah Mahabesar (3x) Mahasuci Allah yang telah menundukkan untuk kami kendaraan ini, padahal kami sebelumnya tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya, dan sesungguhnya hanya kepada Rabb kami, kami akan kembali. Yaa Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan, taqwa dan amal yang Engkau ridhai dalam perjalanan kami ini. Yaa ALLAH mudahkanlah perjalanan kami ini, dekatkanlah bagi kami jarak yang jauh. Yaa Allah, Engkau adalah rekan dalam perjalanan dan pengganti di tengah keluarga. Yaa Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesukaran perjalanan, tempat kembali yang menyedihkan, dan pemandangan yang buruk pada harta dan keluarga) (HR. Muslim)

12. BERTAKBIR KETIKA MENANJAK, BERTASBIH KETIKA MENURUN
“Kami apabila berjalan menanjak mengucapkan takbir  اللهُ أَكْبَرُ
(Allahu Akbar) dan apabila jalan menurun membaca tasbih سُبْحَانَ الله (Subhanallaah)” (HR. Bukhari)

13. MEMPERBANYAK MENGUCAP DOA

“Tiga doa yang tidak akan ditolak: Doa orang tua untuk anaknya, doa orang yang sedang berpuasa, dan doa orang yang sedang safar” (HR. Al-Baihaqi)

14. MEMBERITAHUKAN TERLEBIH DAHULU AKAN KEDATANGANNYA

“Agar keluarganya mempunyai waktu terlebih dahulu untuk merapikan diri, berhias, menyisir rambut yang kusut dan dapat bersolek setelah ditinggal pergi” (HR. Muslim)

15. SHALAT 2 RAKA’AT DI MASJID KETIKA TIBA DARI SAFAR

“Sesungguhnya apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah tiba dari bepergian pada saat Dhuha, beliau masuk ke dalam masjid dan kemudian shalat dua raka’at sebelum duduk” (HR. Bukhari dan Muslim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × three =