Dasar Diisyaratkannya Ibadah Qurban yang Dilakukan pada Hari Raya Haji

HAJI PLUS LANGSUNG BERANGKAT-Idul Adha dinamakan hari raya Haji, juga dinamakan “Idul Qurban”, karena pada hari itu Allah memberi kesempatan kepada kita untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Penyembelihan hewan kurban ini memiliki kisah sendiri. Pada zaman kenabian, Nabi Ibrahim mendapat wahyu untuk menyembelih anaknya, namun Allah SWT mengganti anak itu dengan seekor kambing. Mengapa Allah SWT. memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya sendiri? Yuk kita bahas kisahnya.

Penantian Nabi Ibrahim Agar Dikaruniai Anak

Kisah ini bersumber dari Al-Qur’an, surat Ash-Shaffat ayat 104-107. Setelah Nabi Ibrahim as berpindah dari negeri kaumnya, ia memohon kepada Allah SWT agar dikaruniai seorang anak yang soleh. Dan doa Nabi Ibrahim as dikabulkan Allah SWT, tak lama kemudian istri dari Nabi Ibrahim yang bernama Siti Hajar  melahirkan seorang bayi mungil tampan rupawan yang diberi nama Ismail.

Kesabaran Nabi Ismail

Selama tiga malam Nabi Ibrahim as bermimpi menyembelih anaknya, mimpi itu mengartikan agar Nabi Ibrahim menyembelih anak kesayangannya.  Akhirnya Nabi Ibrahim yakin bahwa mimpi itu adalah perintah dari Allah SWT yang harus dilaksanakan. Setelah itu Nabi Ibrahim menceritakan mimpi tersebut kepada Ismail yang kala itu masih kecil. Ia ingin mendengar pendapat anaknya tentang perintah itu. “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” tanya Nabi Ibrahim. Ismail tidak merasa takut atau marah kepada ayah kandungnya karena ia yakin mimpi itu adalah perintah dari Allah SWT. “Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar.” Ucap Ismail. Keputusan yang Ismail pilih bukan karena paksaan seseorang, kemudian Ismail meminta pertolongan kepada Allah agar ia diberi kesabaran. Ismail tidak menggunakan kekuatan yang ada dalam dirinya, akan tetapi ia meminta kekuatan kepada Allah SWT. Maka dari itu, Allah SWT mencatat nama Ismail sebagai nabi yang tergolong kedalam golongan nabi-nabi yang sabar.

Kemudian mereka pergi ke sebuah tempat yang tinggi. Di tempat itulah, Ismail membaringkan diri dan bersiap untuk disembelih oleh ayahnya. Tetapi ketika semuanya sudah siap, Allah SWT menurunkan wahyu. Untuk membenarkan mimpi itu Allah SWT membalasnya dengan balasan yang setimpal. Allah menggantinya dengan seekor sembelihan yang besar.
Allah SWT berfirman yang artinya :

Dan kami panggillah dia : “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguuhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ansh-Shaaffat : 104-107).

Yang dimaksud dengan membenarkan mimpi itu adalah mempercayai bahwa mimpi tersebut perintah dari Allah SWT dan wajib untuk dilaksanakan. Sesudah melihat kesabaran Ibrahim as dan Ismail maka Allah melarang menyembelih Ismail. Peristiwa ini menjadi dasar diisyaratkannya kurban yang dilakukan pada hari raya haji. Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan sembelihan besar adalah kambing atau domba.
Nabi Ibrahim as berhasil meraih khalilullah (kekasih Allah) karena telah mampu mengorbankan sesuatu yang dicintainya berupa anak, demi mencapai kecintaan kepada Allah. Peristiwa inilah yang selalu diperingati orang muslim setiap tahun dengan anjuran menyembelih hewan kurban pada hari raya Idul Adha.
Begitulah peristiwa yang terjadi pada zaman Nabi Ibrahim as., semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × two =